2 November 2009

THE PANKY, sebuah group rock yang mulai turun pamornya, dimotori oleh Ipank, vocalist yang suka marah, Ozi pemain drum yang suka telat, Eric, pemain gitar yang senang ngambek dan terakhir Joy, yang bertubuh tambun dan suka kentut. Hingga suatu saat, produser The Panky ingin membuat album kaloborasi antara Ipank dan Muna Nada dari O.M SELENDANG BANGKE, penyanyi melayu senior yang selama ini dianggap sebagai Raja dimusik melayu tapi juga sedang turun pamornya. Kaloborasi diantara mereka berdua, diharapkan akan mengembalikan kejayaan mereka. Ipank awalnya menolak karena selama ini ia terkenal sangat anti melayu.

Project mereka dimulai dan tidak berjalan dengan baik, Munanada yang sangat agamis menginginkan siapapun yang akan bekerja sama dengannya harus mengikuti aturannya, Ipank cs dirukiah, diceramahi dan dipereteli tindik dan antingnya, bahkan tattoo mereka juga mau distrika, Ipang,Joy dan Eric yang dipreteli anting dan tindiknya membongkor rahasia Ozi, yang tadinya merasa aman karena ia bersih,tapi ternyata Ozi ditindik dibagian vitalnya dan akhirnya Ozi harus kehilangan tindik andalannya.

Ipank cs mencoba bersabar dan bertahan, tetapi lama-lama ia kesal juga, sehingga saat latihan sering terjadi keributan sampai perkelahian, dan klimaksnya saat Muna nada mengatakan bahwa Ipank telah menyakiti hatinya dan para lelahur melayu dan harus bersiap menerima kutukannya.

Sejak itu selalu disetiap tempat dan kesempatan, Ipank mendengar lagu melayu muna nada, pengamen dilampu merah, bahkan saat ia ditilang polisipun, ternyata polisinya menyanyi melayu..

Sumpah Munanada terus berlanjut, hingga suatu hari, Ipank berkenalan dan langsung jatuh cinta dengan seorang wanita cantik bernama Gabby , ternyata Gabby adalah anak dari Muna nada. Tentu saja Munanada tak merestui hubungan itu, Ipang bahkan di usir dan diancam agar tak mendekati anaknya lagi. Segala usaha dilakukan Ipang agar bisa bertemu Gabby tapi selalu dikandaskan oleh Munanada, sampai akhirnya Gabby mengatakan bahwa Ipang harus membuktikan pada Munanada bahwa ia bisa menjadi hebat dan bisa mengalahkan si Raja melayu Munanada.

The Pangky lalu berlatih melayu dan berguru pada jawara-jawara melayu, dalam Perjalanannya mendalami musik melayu mereka menghadapi situasi yang penuh suka duka dan lucu. The Pangky akhirnya membuat aliran yang khas, Pop Melayu dengan gabungan musik rap…

Tapi harapan Ipang, Munanda akan kepincut dengannya dan merestui hubungan dengan Gaby tidak tercapai, Ipang malah dianggap menodai musik melayu dan dihujat karena sebagai pendatang baru tidak “kulonuwun” dulu pada sesepuh melayu…

Mampukah Ipang menaklukan hati Muna Nada ? Dan mengangkat kembali pamor The PANGKY dengan warna musik mereka yang baru ?

Posted on Senin, November 02, 2009 by Anonim

No comments

Nama Band ini diambil dari nama pembunuh bayaran di South Carolina, Donald Pee Wee Gaskins. Band yang berasal dari Jakarta Selatan ini memilih nama ini karena menginginkan nama yang terdengar ‘Killer
Nama Pee Wee Gaskins merajai pentas seni (pensi) sekolah-sekolah di Jakarta dan sekitarnya. Band asal ibu kota itu pun kini masih menikmati gelar pangeran pensi dengan santai.

"Kita maunya disebut pangeran pensi aja. Ya rezeki nggak akan kemana,"

Band yang digawangi Aldy (drum), Omo (kibord), Dochi (gitar), Sansan (vokal) dan Eye (bass) memberi warna baru di kancah musik. Khususnya bagi anak muda yang melulu disuguhi band-band beraroma musik pop Disney.
Pee Wee Gaskins hadir dengan musik rock berbalut elekrik yang menyenangkan. "Senang aja, artinya anak muda sekarang selera musiknya beragam. Nggak itu-itu melulu," jelas Dochi.

Album perdana mereka 'The Sophomore' masih jadi konsentrasi mereka. Namun akhir tahun mendatang, Pee Wee Gaskins, akan segera menggarap album kedua. Februari 2010 jadi deadline Pee Wee Gaskins untuk merilisnya.

Posted on Senin, November 02, 2009 by Anonim

No comments

Bersama Outsiders Solo, trio punk rocker asal Bali memunguti sampah plastik
Oleh : Soleh Solihun (Rolling Stone Indonesia
“Ini kota Solo, bukan kota sampah,” kata gitaris/vokalis Bobby Kool, Jumat sore, 23 Oktober 2009, di depan Stadion Manahan, Solo. Malam harinya, mereka dijadwalkan manggung di Stadion Sriwedari, dalam konser Get Rock! bersama The S.I.G.I.T. Tapi, setelah soundcheck, Outsiders—sebutan untuk para penggemar SID—menghubungi mereka untuk melakukan aksi pemungutan sampah plastik.


Ini inisiatif Outsiders. Mereka yang mengontak kami. Tadinya mau menanam pohon, tapi karena waktunya mepet, ya jadinya ini aja, ngebersihin sampah,” kata Lia Pasaribu, manajer SID. Puluhan Outsiders berkumpul di depan pusat jajanan yang ada di salah satu sudut Stadion Manahan, sebagian dari mereka membawa sepeda low rider—jenis sepeda yang juga sering dipakai oleh para personel SID dan dibawa ke panggung.

“Mereka ngadaptasi aksi kami di Bali. Waktu itu kan pernah mungutin sampah di pantai, karena di sini nggak ada pantai, jadi ya mungutin sampah di jalan aja,” kata drummer Jerinx.

Dari pusat jajanan, SID dan Outsiders menyusuri beberapa ratus meter sepanjang Jalan Adisucipto yang ada di depan Stadion Manahan. Beberapa keranjang sampah dari bambu, disediakan untuk menampung sampah-sampah plastik yang mereka temui. Tak sedikit di antara remaja yang berjalan kaki mengikuti rombongan itu, sibuk mengambil gambar dengan kamera digital maupun kamera telepon genggam. Tapi, setiap permintaan foto bareng, selalu tak dikabulkan. “Pungutin sampahnya aja dulu ya, nanti fotonya setelah beres,” kata bassis Eka Rock, kepada beberapa orang yang berkali-kali meminta foto.

Setelah kira-kira berjalan beberapa ratus meter, mereka berkumpul di depan salah satu pintu masuk stadion. Waktu menjelang malam, SID harus segera bersiap-siap tampil. Outsiders Solo dikumpulkan, duduk bersila di depan Jerinx, Bobby dan Eka.

“Yang kita lakukan sekarang, memang belum bisa langsung membawa perubahan pada Solo. Tapi, kalian jangan selalu bergantung pada pemerintah. Mulailah dari diri sendiri. Kalau kalian merokok, dan nggak ada tempat sampah, puntung rokoknya simpan dulu di kantong, sampai kalian nemu tempat sampah,” kata Jerinx, sambil menunjukkan beberapa puntung rokok dari dalam saku celananya, “sampaikan juga pada teman kalian, supaya jangan membuang sampah sembarangan. Kalau kalian belanja, dan nggak perlu pake plastik, jangan minta kantong plastik. Kalau beres nge-charge handphone, cabut chargernya supaya menghemat listrik.”

Para Outsiders yang dari wajahnya terlihat sebagian besar masih berusia remaja—kira-kira SMP dan SMA, sebagian malah masih memakai seragam Pramuka—manggut-manggut mendengar ucapan Superman Is Dead. Selama kira-kira lima belas menit, mereka mendengar pesan-pesan soal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan sore itu, ditutup dengan sesi foto bersama.

Foto dan berita diambil dari : http://www.rollingstone.co.id/read/2009/10/10/306/5/1/Superman_Is_Dead_Peduli_Lingkungan

Posted on Senin, November 02, 2009 by Anonim

1 comment